Jujur, ungkapan di atas hanya berlaku di saat-saat tertentu.
Notabene, kalimat ini sering didengungkan orang-orang yang sedang berpatah hati.
Notabene, kalimat ini sering didengungkan orang-orang yang sedang berpatah hati.
Sebegitu murahnya kah sebuah pertemanan?
Hanya bermakna saat kita terpuruk dalam kesedihan?
Lantas dimana kita menaruhnya saat bahagia itu datang?
Lantas dimana kita menaruhnya saat bahagia itu datang?
Beberapa kali aku mengalami fase itu...
Baik sebagai si kawan maupun si teman yangterasuk dirasuki cinta.
Baik sebagai si kawan maupun si teman yang
Jika ada yang mengatakan cinta itu ilusi, salah.
Karna ilusi takkan meninggalkan sakit dan sepi saat ia menghilang.
Karna ilusi takkan meninggalkan sakit dan sepi saat ia menghilang.
Jika mengatakan itu nyata juga salah, karna ia tak bisa diraba, dilihat dan diterawang (*kidding)
Pertemanan.
Begitupun dengan prinsip si cinta yang datang dan pergi, pertemanan pun terseleksi oleh alam.
Hitung saja.
Berapa teman akrab (*yang benar-benar akrab dan terjalin komunikasi baik) mu dari kamu TK sampai sekarang?
SD?
SMP?
SMA/SMK?
KULIAH?
KERJA?
Berapa teman akrab (*yang benar-benar akrab dan terjalin komunikasi baik) mu dari kamu TK sampai sekarang?
SD?
SMP?
SMA/SMK?
KULIAH?
KERJA?
Kalopun tak akrab, yang sekedar lewat bertegur sapa sehari itu sih banyak.
Aku mungkin bukan penganut paham berkelompok, jika saja manusia bukan makhluk sosial - aku lebih suka menyendiri -.
Dan mungkin lumayan banyak orang-orang yang mengelompokkan dirinya.
Mungkin karena status sosialnya (*demi itu ngutang dimana-mana), hobinya, minatnya, keahliannya (*apa bedanya?) membuat mereka berkelompok.
Seperti segerombolan bebek atau ayam yang berbaris berurutan saat memasuki ruangan.
Dan mungkin lumayan banyak orang-orang yang mengelompokkan dirinya.
Mungkin karena status sosialnya (*demi itu ngutang dimana-mana), hobinya, minatnya, keahliannya (*apa bedanya?) membuat mereka berkelompok.
Seperti segerombolan bebek atau ayam yang berbaris berurutan saat memasuki ruangan.
Kelemahannya satu. Kita jadi bodoh dalam hal berbaur dan bertenggang rasa.
Hidup itu mengalir. Berjalan.
Takkan pernah kita tau, apakah teman kita sekelompok itu akan terus bersama kita?
Ataukah mau tidak mau kita berbaur dengan kelompok lain?
Aku merasakannya.
Sekejap saja kita berganti fase kehidupan, teman-teman yang ada di sekeliling itupun berubah.
Kadang, kita terkesan meninggalkan yang lama dengan alasan kesibukan, kurang waktu.
Ya, karena tidak ada lagi yang membuat kita satu.
Pertemanan pun bisa datang dan pergi sesuka mereka.
P.S : Dengan adanya foto-foto ini... anda mungkin bisa menilai bahwa saya bukan orang yang fashionable.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar